February 09, 2013

Menyelami Pulau-Pulau Kecil Wakatobi



Voice+ Magazine, January 2013

Text: Harum Sekartaji
Photos: Harum Sekartaji (land) & Ria Qorina Lubis (underwater)


Matahari telah bersinar dengan teriknya ketika pesawat kecil jenis Dornier 328-100 lepas landas dari bandara Betoambari, Bau-bau, tempat transit kedua. Setelah penerbangan panjang dari Jakarta ke Makassar lalu Bau-bau, akhirnya kami melanjutkan ke tujuan akhir: Wakatobi! Yang menggembiarakan, kali ini kami akan mengunjungi pulau-pulau kecil yang masih jarang dikunjungi wisatawan lain.

Langit biru cerah menyambut kedatangan kami di bandara Matahora, Wangi-wangi – atau sering disebut Wanci, ibukota Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Seperti tersihir indahnya langit yang jarang ditemui di Jakarta, kami segera mengabadikan cuaca cerah itu. Karena jalan utama hanya terletak 10 meter dari bibir pantai, sepanjang perjalanan dari bandara menuju tengah kota mata kami disuguhi pantai berpasir putih dan laut...laut...laut!   

June 03, 2012

NKOTBSB: walking down the memory lane :-)



pengakuan: i'm a diehard blockhead back then, 
antara 1989-1993an..haha! 
sampai hafal semua nama lengkapnya, tanggal lahirnya, 
koleksi kaset, poster, pin ampe kaos :-D 

waktu NKOTB konser 3 hari di awal 1992, 
anak SMP di pelosok jogja ini cuma bisa baca berita2nya 
di majalah abege sambil meler :-p. 

20 taun berlalu. 
baru pada H-2 memutuskan untuk nonton konser ini 
karena tawaran tiket 50% off. 
cuma ada waktu setengah hari dengerin lagu2 jadulnya 
untuk persiapan jejingkrakan, 
dan ternyata masih hafal semua liriknya luar kepala ck ck ck...


January 05, 2012

versi aslinya: Pawiwahan Ageng

text: Harum dan Hera
photo: Irfan Yusuf

versi cetak dan online bisa dibaca di sini ya.



“Kulo Abdi Dalem, Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara SE, MSi dinten meniko ngestoaken dhawuh timbalan dalem. Kadhaupaken kaliyan putro dalem putri Gusti Kanjeng Ratu Bendoro BA kanthi mas kawin kitab suci Al-Quran, perangkat sholat, sarta rojokoyo puniki. Salajengipun, nyadhong berkah pangestu dalem, sembah nuwun.”

Sebaris kalimat jawaban ijab qobul berbahasa Jawa Kromo Inggil yang diucapkan Ahmad Ubaidillah, yang kini bergelar KPH Yudanegara, menjadi tanda sah pernikahannya dengan Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni, putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang diberi gelar GKR Bendara. Pemberian gelar kepada putra-putri Sultan lazim dilakukan sesaat sebelum mereka menikah. Di sini terjadi kenaikan kasta bagi pasangan putra atau putri Sultan yang bukan berasal dari kalangan ningrat.

Ya, hanya enam bulan sejak perhatian dunia terfokus pada kemeriahan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton, masyarakat Indonesia disuguhi sebuah perayaan bak negeri dongeng yang tak kalah istimewa. Rangkaian pernikahan adat Jawa nan agung yang sarat makna budaya dan simbol-simbol kraton Ngayogyokarto Hadiningrat diselenggarakan selama empat hari pada pertengahan Oktober 2011 lalu. Tidak dipungkiri, efek perayaan royal wedding kerajaan Inggris Raya cukup terasa pada hajatan di Yogyakarta ini, terutama dari sisi pemberitaan. Pernikahan putri kelima Sultan HB X ini lebih banyak diperbincangkan oleh media dibandingkan pernikahan tiga putri Sultan sebelumnya. Bahkan istilah “royal wedding” pun terlegitimasi dengan sendirinya menggantikan frase “pernikahan agung” atau “pawiwahan ageng”.


Apapun istilah yang digunakan, ternyata sebuah pernikahan sarat budaya seperti ini memberi kesejukan tersendiri ditengah kejenuhan modernitas. Perhatian masyarakat Indonesia sempat tersedot kepada perhelatan akbar keluarga kraton Yogyakarta ini. Sebuah bukti bahwa tata cara dan adat istiadat leluhur masih menarik, apalagi prosesi tersebut dilakukan oleh keluarga kerajaan, tempat segala tradisi tersebut berasal.

Saat ini upacara pernikahan menggunakan adat Yogyakarta masih sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia, bahkan pada keluarga yang tidak berasal dari Yogyakarta. Urut-urutan pelaksanaannya pun masih mengikuti apa yang digariskan oleh Keraton, meski dengan penyesuaian disana-sini. Bukan hal yang aneh jika Anda diundang pada sebuah acara pernikahan di hotel berbintang di ibukota, namun rangkaian acara yang disaksikan dari awal sampai akhir adalah secara adat Yogyakarta, bahkan lengkap dengan MC yang berbahasa Jawa Kromo! Tentu saja ini isyarat baik bahwa tradisi budaya masih dijunjung tinggi.


October 14, 2011

wakatobi: semuanya laut!



@ bandara matahora

pheeew...akhirnya bisa posting foto-foto yang terbengkalai 7 bulan. 
ini wakatobi: wangi-wangi - kaledupa - tomia - binongko

tiang tinggi @ FRS menami
wangi-wangi sunset


lelah karena terbang subuh2 dari jakarta dengan dua kali transit
di makassar dan bau-bau terbayar lunas,
begitu pesawat kecil express air memasuki udara perairan wakatobi.
lalu mendarat di bandara matahora.
biruuuuu bening!

June 01, 2011

Merajut Asa Pasca Erupsi - Garuda Magz

text: harum
photo: Irfan Yusuf

versi cetak ada di sini ya.



“Monggo pinarak,” (mari mampir) undang seorang nenek. Tubuh rentanya berdiri di atas tanah lapang yang berisikan puing-puing bangunan. Tanah inilah yang disebutnya ”rumah”. 
Tukirah Kromoyoso, wanita berusia 65 tahun yang berprofesi sebagai bidan, hanyalah satu di antara ribuan manusia yang harus kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian pascaerupsi Gunung Merapi. Dan seperti kebanyakan orang yang hidup turun-temurun di lereng Merapi, penduduk Cangkringan, Sleman, ini tetap bersahabat dengan sang gunung. “Jangan sampai kita berkata hal yang buruk tentang Merapi karena saat ini ia sedang berbenah,” ujarnya sambil bersimpuh di atas reruntuhan rumahnya, ”Pada waktunya nanti ia akan memberikan kesuburan bagi tanah ini.”

Merapi sedang ”berbenah ”dan ia akan memberikan ”kesuburan”. Barangkali ini optimisme, atau mungkin sekadar sugesti untuk meyakinkan diri sendiri akan hari esok yang lebih baik. Yang jelas, Mbah Kromo bersikukuh untuk menata ulang hidupnya di lereng gunung yang pernah nyaris membunuhnya.

Pada saat Merapi sedang mengamuk pada awal Oktober hingga November 2010 lalu, Mbah Kromo bersama suami serta anak cucunya terpaksa mengungsi, berpindah-pindah dari satu shelter ke shelter lain. Diameter jarak aman dari puncak Merapi yang bertambah luas dalam hitungan singkat memaksa mereka merelokasi diri hingga sembilan kali. Lima ekor sapi dan rumah seisinya ditinggalkan. “Saya pasrahkan kepada Yang Maha Kuasa. Apabila saat kembali nanti masih utuh, itu adalah rezeki kami. Tapi kalau lenyap, berarti bukan lagi menjadi bagian kami,” ujarnya. Mbah Kromo telah mendapatkan jawabannya: seluruh hartanya hangus tersapu awan panas.