Showing posts with label thoughts. Show all posts
Showing posts with label thoughts. Show all posts

May 05, 2018

ultahan meriah vs sampah menggunung




"apakah saya bisa mengadakan 'pesta' ulang tahun anak tanpa meninggalkan sampah segunung?" pertanyaan ini saya ajukan ke diri sendiri, terinspirasi dari banyaknya sampah sisa pesta ultah seorang kerabat beberapa bulan lalu. usai pesta, yang hanya dihadiri tak kurang dari 20 orang anak dan dewasa, tersisa berkantong-kantong sampah piring kertas, gelas plastik dan kertas, balon-balon berbagai jenis (yang ini aja udah LIMA KANTONG GEDE!), tisu kertas, dan dekorasi! kita belum hitung sampah yang organik ya, yang menjadi sisa dari kue ultah gak habis dan makanan lainnya. bayangkan jika pesta dihadiri lebih dari jumlah itu.

ini kemudian membuat saya menoleh ke belakang. "jangan-jangan selama ini saya melakukan hal yang sama? menyenangkan anak-anak (saat ini) tanpa memikirkan dampaknya untuk mereka (di masa depan)."

June 17, 2016

mendadak caesar


selamat ulang tahun ke 0 :-D

menjelang subuh, rabu 4 mei 2016, saya merasa nyeri datang dan pergi di perut bawah. seperti nyeri haid tapi jauh lebih kuat. sudah hampir tiga minggu si mbak mudik jadi seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu saya beberes meja makan dan dapur, cuci piring, masukin pakaian kotor ke mesin cuci, nyapu, dan menyiapkan bekal naila sekolah. masih bisa saya lakukan sambil sesekali gerak dan goyang sana-sini saat nyeri datang. 

jam 08:00 setelah naila berangkat sekolah, gelombang cinta dari rahim itu mulai rutin datang. setiap rasa itu muncul, saya berjalan mondar mandir, goyang-goyang, ataupun naik ke gym ball lalu memutar. saya lakukan pernafasan dalam ketika menjelang siang rasa itu semakin kuat. suami sengaja tidak ke mana-mana hari itu. di kamar sambil memijit, ngelap keringat, dan memantau saya. hospital bag sudah dia siapkan di mobil jikalau sewaktu-waktu harus ke rumah sakit. dia tampak santai dan tidak panik karena setiap kali bertanya 'gimana, udah berasa sakit mi?' saya jawab 'biasa aja' sambil masih ketawa-ketawa. 


May 03, 2014

kelas inspirasi: ketika mendapat lebih dari yang diberi


Siang yang terik di tengah cuaca bulan April kota Jakarta. Peluh mengalir dari kepala membasahi pipi dan sekujur wajah. Saya berlari naik turun tangga sambil sesekali menyeka dahi dengan punggung tangan. Sekali dua kali saya mengganti lensa kamera untuk mendapatkan efek berbeda. Adegan secepat kilat itu saya lakoni demi mendokumentasikan sisi-sisi menarik kegiatan puncak dari Kelas Inspirasi di SDN Paseban 03, Jakarta Pusat.

Spanduk berwarna oranye terang sepanjang enam meter diangkat ke atas oleh para siswa gabungan tiga sekolah. Huruf-huruf putih berukuran besar terbaca jelas: Kelas Inspirasi SDN Paseban 01, 02, 03. Kemudian kami semua bernyanyi, bersalaman, berfoto bersama dengan para guru, siswa, staf sekolah, dan sesama relawan.


November 27, 2010

sekolah hidup di lereng merapi

kelas bersyukur

“penak kok mbak ning kene. nek mbengi yo anget. ora popo…sing penting sehat, donga dinonga nggih.”sebait ucapan simbah itu kira-kira mengalir demikian, sambil merangkul bahu saya dengan erat. keikhlasan dan kesederhaan. hanya itu yang terlintas ketika mendengar tuturnya. bagaimana tidak? ruang kelas di lereng dingin merapi yang disulap menjadi kamar tidur bersama itu hanya beralas tikar. tetap, beliau mensyukurinya dengan mengatakan sebagai ‘tempat yang enak dan hangat’.

kelas kerendahan hati

“kulo mboten gadhah arto mbak”, kata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya ketika teman saya berbagi sebungkus biskuit. sang teman bingung. tapi tiba-tiba tersadar dan menjawab “ini untuk si adik bu, saya gak jual kok”. yup, dalam kondisi cukup kekurangan di pengungsian, hidup berdesakan di gedung sekolah, ibu itu tetaplah seorang warga lereng merapi yang rendah hati dan tahu diri bahwa ia harus berusaha sebelum mendapatkan sesuatu, bukan sekadar menerima pemberian orang. 

kelas kesopanan

seorang anak lelaki dengan asiknya menyusun kepingan-kepingan lego yang saya bagikan menjadi sebuah mobil mungil. dengan wajah berbinar si anak memainkan mobil buatannya seakan lantai dingin balai desa itu adalah jalan raya yang mulus. "breemmm bremmm ciiiit", kata-kata ajaib keluar dari mulutnya. puas bermain, dia melepas mobil dan hasil karya lain menjadi kepingan lego kembali. memasukkannya ke dalam plastik, dan berlari ke arah saya: "mbak niki mbak...mpun rampung dolanan."  anak sekecil itu, tahu bahwa apa yang bukan miliknya harus dikembalikan. wajahnya kembali bersinar ketika saya katakan bahwa semua mainan yang kami bawa itu tidak akan kami bawa kembali pulang.

kelas kejujuran

"oke...ketua kelompok tolong membagi bukunya dengan adil ya. satu orang dapat dua," kata teman saya kepada anak-anak dalam sebuah acara bermain bersama di sebuah posko di muntilan. tak lama anak perempuan itu maju membawa satu buku dan menyerahkannya. "lho ini kenapa dik?", tanya teman saya. "sisa satu mbak, saya kembalikan." yup, sisa satu buku itu bisa saja dia simpan sendiri. tapi tidak, dia tahu bahwa kejujuran lebih penting.

kelas 'njawani'

"yo nek wong sing ora paham kearifan lokal ning kene ki pancen rodo angel nrimo artine loyalitas lan spiritualitas versi jowo. ora ono hubungane ro mistik2an, ning iki masalah prinsip. makane ha mbok awakmu kerjo karo londo2 kae yo ojo nganti lali tetep kudu njawani."  yang terakhir ini adalah ucapan ibu saya. selalu mengingatkan untuk tidak lupa 'kembali' menginjak tanah di mana saya dilahirkan, walaupun kaki sudah melangkah ke seribu tanah lainnya :-)

tepat sebulan sudah. semoga jogja tetap indah.

jakarta, 27 november 2010