August 17, 2013

[hari merdeka]

harapan besar, semoga para petani kita di pelosok bisa merdeka.
merdeka dari pupuk impor, merdeka dari tengkulak.

antara klaten-boyolali, agustus 2013


February 09, 2013

Menyelami Pulau-Pulau Kecil Wakatobi



Voice+ Magazine, January 2013

Text: Harum Sekartaji
Photos: Harum Sekartaji (land) & Ria Qorina Lubis (underwater)


Matahari telah bersinar dengan teriknya ketika pesawat kecil jenis Dornier 328-100 lepas landas dari bandara Betoambari, Bau-bau, tempat transit kedua. Setelah penerbangan panjang dari Jakarta ke Makassar lalu Bau-bau, akhirnya kami melanjutkan ke tujuan akhir: Wakatobi! Yang menggembiarakan, kali ini kami akan mengunjungi pulau-pulau kecil yang masih jarang dikunjungi wisatawan lain.

Langit biru cerah menyambut kedatangan kami di bandara Matahora, Wangi-wangi – atau sering disebut Wanci, ibukota Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Seperti tersihir indahnya langit yang jarang ditemui di Jakarta, kami segera mengabadikan cuaca cerah itu. Karena jalan utama hanya terletak 10 meter dari bibir pantai, sepanjang perjalanan dari bandara menuju tengah kota mata kami disuguhi pantai berpasir putih dan laut...laut...laut!   

June 03, 2012

NKOTBSB: walking down the memory lane :-)



pengakuan: i'm a diehard blockhead back then, 
antara 1989-1993an..haha! 
sampai hafal semua nama lengkapnya, tanggal lahirnya, 
koleksi kaset, poster, pin ampe kaos :-D 

waktu NKOTB konser 3 hari di awal 1992, 
anak SMP di pelosok jogja ini cuma bisa baca berita2nya 
di majalah abege sambil meler :-p. 

20 taun berlalu. 
baru pada H-2 memutuskan untuk nonton konser ini 
karena tawaran tiket 50% off. 
cuma ada waktu setengah hari dengerin lagu2 jadulnya 
untuk persiapan jejingkrakan, 
dan ternyata masih hafal semua liriknya luar kepala ck ck ck...


January 05, 2012

versi aslinya: Pawiwahan Ageng

text: Harum dan Hera
photo: Irfan Yusuf

versi cetak dan online bisa dibaca di sini ya.



“Kulo Abdi Dalem, Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara SE, MSi dinten meniko ngestoaken dhawuh timbalan dalem. Kadhaupaken kaliyan putro dalem putri Gusti Kanjeng Ratu Bendoro BA kanthi mas kawin kitab suci Al-Quran, perangkat sholat, sarta rojokoyo puniki. Salajengipun, nyadhong berkah pangestu dalem, sembah nuwun.”

Sebaris kalimat jawaban ijab qobul berbahasa Jawa Kromo Inggil yang diucapkan Ahmad Ubaidillah, yang kini bergelar KPH Yudanegara, menjadi tanda sah pernikahannya dengan Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurastuti Wijareni, putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, yang diberi gelar GKR Bendara. Pemberian gelar kepada putra-putri Sultan lazim dilakukan sesaat sebelum mereka menikah. Di sini terjadi kenaikan kasta bagi pasangan putra atau putri Sultan yang bukan berasal dari kalangan ningrat.

Ya, hanya enam bulan sejak perhatian dunia terfokus pada kemeriahan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton, masyarakat Indonesia disuguhi sebuah perayaan bak negeri dongeng yang tak kalah istimewa. Rangkaian pernikahan adat Jawa nan agung yang sarat makna budaya dan simbol-simbol kraton Ngayogyokarto Hadiningrat diselenggarakan selama empat hari pada pertengahan Oktober 2011 lalu. Tidak dipungkiri, efek perayaan royal wedding kerajaan Inggris Raya cukup terasa pada hajatan di Yogyakarta ini, terutama dari sisi pemberitaan. Pernikahan putri kelima Sultan HB X ini lebih banyak diperbincangkan oleh media dibandingkan pernikahan tiga putri Sultan sebelumnya. Bahkan istilah “royal wedding” pun terlegitimasi dengan sendirinya menggantikan frase “pernikahan agung” atau “pawiwahan ageng”.


Apapun istilah yang digunakan, ternyata sebuah pernikahan sarat budaya seperti ini memberi kesejukan tersendiri ditengah kejenuhan modernitas. Perhatian masyarakat Indonesia sempat tersedot kepada perhelatan akbar keluarga kraton Yogyakarta ini. Sebuah bukti bahwa tata cara dan adat istiadat leluhur masih menarik, apalagi prosesi tersebut dilakukan oleh keluarga kerajaan, tempat segala tradisi tersebut berasal.

Saat ini upacara pernikahan menggunakan adat Yogyakarta masih sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia, bahkan pada keluarga yang tidak berasal dari Yogyakarta. Urut-urutan pelaksanaannya pun masih mengikuti apa yang digariskan oleh Keraton, meski dengan penyesuaian disana-sini. Bukan hal yang aneh jika Anda diundang pada sebuah acara pernikahan di hotel berbintang di ibukota, namun rangkaian acara yang disaksikan dari awal sampai akhir adalah secara adat Yogyakarta, bahkan lengkap dengan MC yang berbahasa Jawa Kromo! Tentu saja ini isyarat baik bahwa tradisi budaya masih dijunjung tinggi.


October 14, 2011

wakatobi: semuanya laut!



@ bandara matahora

pheeew...akhirnya bisa posting foto-foto yang terbengkalai 7 bulan. 
ini wakatobi: wangi-wangi - kaledupa - tomia - binongko

tiang tinggi @ FRS menami
wangi-wangi sunset


lelah karena terbang subuh2 dari jakarta dengan dua kali transit
di makassar dan bau-bau terbayar lunas,
begitu pesawat kecil express air memasuki udara perairan wakatobi.
lalu mendarat di bandara matahora.
biruuuuu bening!