April 24, 2011

wakatobi: kabupaten lautan

kapal menami-naik sampan bajo-sampan di hoga-
anak bajo-morning dive-bahan kasuami-
dermaga runduma-kain kaledupa

sepuluh hari menikmati kabupaten yang 97% wilayahnya laut. yes...wakatobi atawa wangi-wangi, kaledupa, tomia, binongko menjadi tempat kerja saya pada 14-23 april 2011 lalu. beruntunglah saya yang sedang membantu tim sebuah lembaga, sehingga bisa menyusuri keempat pulau utama ditambah pulau-pulau luar yang jaraknya gak kira-kira: runduma, anano, tuwu-tuwu (yang sering disebut juga cowo-cowo), kentiole dengan KLM FRS Menami milik WWF-TNC serta ngebut antar pulau dengan speedboat Coremap II.

March 16, 2011

“Mutiara Bawah Laut” Ambon Manise

Artikel yang pernah dimuat majalah scuba diver australasia - edisi indonesia tahun lalu. kolaborasi tulisan saya dan foto-foto ria qorina lubis. enjoooy  :-)

Hangatnya sinar mentari pagi yang muncul dari balik horison di tengah laut luas mulai menyapa. Waktu menunjukkan pukul 05:30 WITA, menandakan bahwa beberapa saat lagi pesawat yang membawa kami dari Jakarta akan segera mendarat di Bandar Udara Pattimura, Ambon. Ya, keindahan landscape dan bawah laut ibukota Provinsi Maluku itu akan kami jelajahi selama sepuluh hari, menggoreskan kata-kata dalam catatan kami dan mengabadikan foto-foto indahnya. 

Maluku dikenal sebagai kepulauan rempah-rempah (spice islands) karena hasil buminya berupa cengkeh, pala, dan kenari yang melimpah. Selain itu hasil alam lainnya juga teramat kaya, misalnya kelapa, coklat, kopra, kayu, karet, dan tentu saja ikan dan mutiara.  Kota Ambon sendiri, dengan luas sekitar 377 km2, dikelilingi laut dan teluk sehingga kekayaan lautnya menjadi potensi wisata yang sangat besar, selain juga kekayaan sejarah, budaya dan keragaman kuliner. Dapat dibayangkan, banyak sekali lokasi yang belum pernah dieksplorasi menjadi titik penyelaman. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah, untuk meningkatkan akses serta fasilitas wisata Maluku, khususnya Ambon.   

Sebelum mulai jadual menyelam esoknya, waktu istirahat sehari kami isi dengan mengunjungi pantai-pantai yang terkenal bening dan eksotik. Pantai Liang di bagian timur laut Leihitu yang memiliki garis pantai sepanjang 4 km menjadi tujuan pertama. Benar kata orang. Pantai ini memiliki pasir putih dan dipenuhi pepohonan rindang. Beberapa buah kelapa muda yang baru saja dipetik langsung dari pohonnya menemani kami menikmati semilir udara laut siang itu. Pantai Natsepa dengan rujaknya yang sangat terkenal, Pantai Pintu Kota yang menjadi simbol ‘pintu masuk’ Kota Ambon, serta Pantai Namalatu yang tenang cukup menyegarkan badan setelah melalui penerbangan panjang. Pada sore hari kami habiskan waktu di landmark Kota Ambon, yaitu Patung Christina Martha Tiahahu, yang terlihat bagaikan sedang menatap matahari terbenam di seberang. 


November 27, 2010

sekolah hidup di lereng merapi

kelas bersyukur

“penak kok mbak ning kene. nek mbengi yo anget. ora popo…sing penting sehat, donga dinonga nggih.”sebait ucapan simbah itu kira-kira mengalir demikian, sambil merangkul bahu saya dengan erat. keikhlasan dan kesederhaan. hanya itu yang terlintas ketika mendengar tuturnya. bagaimana tidak? ruang kelas di lereng dingin merapi yang disulap menjadi kamar tidur bersama itu hanya beralas tikar. tetap, beliau mensyukurinya dengan mengatakan sebagai ‘tempat yang enak dan hangat’.

kelas kerendahan hati

“kulo mboten gadhah arto mbak”, kata seorang ibu yang sedang menggendong anaknya ketika teman saya berbagi sebungkus biskuit. sang teman bingung. tapi tiba-tiba tersadar dan menjawab “ini untuk si adik bu, saya gak jual kok”. yup, dalam kondisi cukup kekurangan di pengungsian, hidup berdesakan di gedung sekolah, ibu itu tetaplah seorang warga lereng merapi yang rendah hati dan tahu diri bahwa ia harus berusaha sebelum mendapatkan sesuatu, bukan sekadar menerima pemberian orang. 

kelas kesopanan

seorang anak lelaki dengan asiknya menyusun kepingan-kepingan lego yang saya bagikan menjadi sebuah mobil mungil. dengan wajah berbinar si anak memainkan mobil buatannya seakan lantai dingin balai desa itu adalah jalan raya yang mulus. "breemmm bremmm ciiiit", kata-kata ajaib keluar dari mulutnya. puas bermain, dia melepas mobil dan hasil karya lain menjadi kepingan lego kembali. memasukkannya ke dalam plastik, dan berlari ke arah saya: "mbak niki mbak...mpun rampung dolanan."  anak sekecil itu, tahu bahwa apa yang bukan miliknya harus dikembalikan. wajahnya kembali bersinar ketika saya katakan bahwa semua mainan yang kami bawa itu tidak akan kami bawa kembali pulang.

kelas kejujuran

"oke...ketua kelompok tolong membagi bukunya dengan adil ya. satu orang dapat dua," kata teman saya kepada anak-anak dalam sebuah acara bermain bersama di sebuah posko di muntilan. tak lama anak perempuan itu maju membawa satu buku dan menyerahkannya. "lho ini kenapa dik?", tanya teman saya. "sisa satu mbak, saya kembalikan." yup, sisa satu buku itu bisa saja dia simpan sendiri. tapi tidak, dia tahu bahwa kejujuran lebih penting.

kelas 'njawani'

"yo nek wong sing ora paham kearifan lokal ning kene ki pancen rodo angel nrimo artine loyalitas lan spiritualitas versi jowo. ora ono hubungane ro mistik2an, ning iki masalah prinsip. makane ha mbok awakmu kerjo karo londo2 kae yo ojo nganti lali tetep kudu njawani."  yang terakhir ini adalah ucapan ibu saya. selalu mengingatkan untuk tidak lupa 'kembali' menginjak tanah di mana saya dilahirkan, walaupun kaki sudah melangkah ke seribu tanah lainnya :-)

tepat sebulan sudah. semoga jogja tetap indah.

jakarta, 27 november 2010

October 10, 2010

From Yogya with Art - Jalan-jalan Magz

Text: Harum & Rachma Safitri
Photo: Irfan Yusuf
Jalan-jalan Magazine, Desember 2009 


Dari semua kota di Indonesia yang menjadikan budaya sebagai komoditas jualan dalam brosur-brosur wisata, Yogyakarta masih berada di garda terdepan. Kota ini diberkati sejarah kolosal yang menempatkannya dalam pusaran budaya Nusantara. Kantong-kantong keseniannya yang tersebar di penjuru kota tak lelah menelurkan pekerja-pekerja seni hebat di panggung nasional, sebut saja Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Putu Sutawijaya, dan Ugo Untoro. Satu fenomena lain yang turut mengentalkan wajah budaya Yogya adalah besarnya peran keraton dalam perpolitikan. Kota ini boleh saja masuk dalam jagat demokrasi, tapi tetap Sultan merupakan pranata paling berpengaruh dalam masyarakat — bukan partai, parlemen, apalagi oposisi.

Pada 7 Oktober 2009, memasuki usia ke-253 (hampir empat kali lebih tua dari umur Republik), Yogya semakin mantap mengukuhkan identitasnya sebagai kota budaya. Berbagai suguhan dan atraksi meriah digelar sepanjang bulan, mulai dari pawai budaya Bergada Agung Hadeging Ngayogyakarta (berdirinya kota Yogya), Jogja Java Carnival bertema “Past, Present and Future”, hingga pertunjukan seni lokal dan mancanegara yang terangkum dalam Jogja International Performing Arts (JIPA) dan Asia Tri 2009.

July 31, 2010

my first book: amazing ambon

alhamdulillah...kelar juga akhirnya buku 'pesenan ini'. 
setelah berproses selama 8 bulan (nov 2009-juli 2010) amazing ambon siap dibaca!


the book cover